Pedagang Kue Samir, Smart Tech, dan Gamification
"Seharusnya pedagang kue samir ini menginstall smart cooker untuk kuenya, smart display untuk menunya, smart cashier untuk semua penerimaannya, dan semuanya connect ke marketplace/layanan antar jemput makanan - kemudian terkoneksi dengan Ai untuk semuanya bisa diotomatisasi. Dengan begitu ia bisa fokus pada hal lain untuk terus mengembangkan business-nya. Zaman teknologi begini kok masih jualan dengan cara conventional. Kalo jualan smart dikit lah!" saya melamun membayangkan di dimensi lain mungkin ada Smart Consultant yang sambil duduk di sebelah saja akan berkomentar seperti itu (jika ada kejadian yang sama - ini hanya kebetulan).
Pertanyaannya, apakah benar pedagang kue samir ini kurang smart?
Ia jualan di belakang sebuah mall besar di Jakarta, dia hadirkan variasi rasa, ia berikan harga yang kompetitif, dan yang paling hebat, sepertinya ia tidak serakah berjualan segala macam, ia fokus pada jualan yang paling ia pahami.
Pendapatannya mungkin belum seberapa, tapi ia melakukan segala hal sesuai dengan kapasitasnya dan melakukan sebaik yang ia bisa. Dalam banyak aspek, menurut saya - he is smart!
Kita kadang tergoda menyandingkan kata "smart" dengan teknologi terkini, padahal faktanya--kita yang memiliki semua akses teknologi terkini kadang bahkan belum tahu bagaimana memanfaatkannya. Dengan kata lain, smart teknologi tidak otomatis membuat kita jadi smart people.
Begitu juga terkait dengan pemanfaatan game dan gamification. Kita berpikir implementasi game (di berbagai bidang) dan konsep gamification adalah melulu soal smart tech, soal digitalisasi, soal mobile apps, soal leader board, skor, dan badge.
Padahal yang utama adalah soal memilih area implementasi yang tepat, menghadirkan pilihan "rasa" yang menarik, dan fokus pada aspek yang ingin kita kembangkan. Teknologi, sesuai dengan akses dan pemahaman yang dimiliki. penting untuk dioptimalkan. Untk memastikan semuanya bisa efektif dan efesien. Bisa lebih manusiawi. Bisa lebih memberdayakan. Dengan begitu kita akan mampu memotivasi customer kita menikmati apapun yang jadi suguhkan (learning process, product, or services).
Dengan kata lain, tidak ada jaminan bahwa implementasi game dan gamification dengan teknologi terkini akan membuat customer kita menjadi smart. Tapi dengan pemahaman yang tepat, dan kemampuan mengoptimalkan teknologi yang ada, kita akan selalu bisa hadirkan implementasi game/Gamification terbaik untuk customer kita.
"Maaf mas, itu kue samir punya saya, sampeyan sibuk ngetik sampe asal comot!" tegur bapak di pinggir saya, mengingatkan saya untuk berhenti melamun dan kembali memesan 5 potong kue samir selanjutnya.
---
Ada yang pernah merasakan lezatnya kue samir?