Pagi, Kopi, dan Renungan: Apakah Gap Teknologi (AI) Perlu Ditakuti?

Published on September 17, 2026

Habis subuhan, layar laptop dinyalakan. Kopi disiapkan. Buka beberapa agent-harness (Antigravity dan Hermes Agent GUI). Buka beberapa catatan di buku dan Obsidian dan minta Mbak EVA (salah satu agen) untuk review beberapa hal. Lalu biasanya sibuk sendiri, sampai lupa waktu dan kopi dingin. Sadar ketika Nona Kiriya datang dan mengingatkan untuk sarapan.

Saya bukan software engineer penuh. Dan bukan pula saya berpura-pura jadi satu. Tapi ada satu hal yang saya rasakan setiap kali sesi pagi itu selesai. Ada semacam kebahagiaan kecil. Bukan karena saya merasa lebih tahu, bukan juga karena sudah menghasilkan sesuatu yang bisa dipamerkan. Justru kebahagiaannya ada di prosesnya belajarnya, ketika bisa mencoba banyak hal, ketika sukses juga ketika gagal.

Mungkin terdengar sederhana. Mungkin juga tidak penting. Tapi buat saya, sesi pagi itu bawa semacam semangat dan kebahagiaan tersendiri.

Tapi sering kali juga muncul pertanyaan: apakah seorang pemimpin itu harus memiliki dan terus belajar kemampuan teknis secara lebih detil, ketika mungkin malah menimbulkan gap yang tinggi antara pemimpin dan timnya?

Ingin Mengubah

Saya harus jujur soal ini. Semakin banyak kita belajar, semakin bertambah pengetahuan kita, kadang ada godaan besar untuk ingin segera "mengubah" banyak hal yang ada di sekitar kita. Di lingkungan keluarga, lingkungan kerja, juga dalam cakupan yang luas - Indonesia. Sering kali bertanya: "Kenapa tidak mencoba cara baru? Kenapa gak pengen tahu? Kenapa gak penasaran sama teknologi baru?"

Dulu, saya tergoda untuk melabeli hal-hal yang dikerjakan dengan cara lama sebagai "tidak efisien". Sekarang saya coba berhenti sebentar. Menarik napas. Ingatkan diri sendiri bahwa setiap orang tentu punya kekuatannya sendiri. Untuk kemudian selalu melihat semua pencapaian baik yang ada dan sungguh-sungguh bersyukur karenanya.

Pertanyaan "Kenapa tidak mencoba cara baru? Kenapa gak pengen tahu? Kenapa gak penasaran sama teknologi baru?" itu tetap ada. Tapi saya belajar untuk tidak menjadikannya bahan menghakimi. Saya coba ubah jadi bahan introspeksi. Mungkin ada alasan yang belum saya ketahui/pahami. Mungkin konteks dan situasi setiap orang berbeda. Mungkin cara yang teman-teman lakukan memang sudah yang terbaik untuk kondisi saat ini. Mungkin semua juga sudah selalu ingin tahu dan mencoba banyak hal baru, namun dengan cara mereka sendiri.

Saya tidak selalu berhasil menahan diri. Tapi saya sadar bahwa yang saya inginkan adalah agar semua bisa menikmati kebahagiaan belajar yang saya rasakan.

Game Sebagai Jawaban

Kembali ke pertanyaan awal: apakah seorang pemimpin itu harus memiliki dan terus belajar kemampuan teknis secara lebih detil, ketika mungkin malah menimbulkan gap yang tinggi antara pemimpin dan timnya?

Mungkin jawaban adalah tidak. Tapi saya percaya bahwa penting untuk seorang pemimpin, mengasah kemampuannya untuk terus bahagia belajar. Untuk kemudian juga coba membagikan kebahagiaan belajarnya sebaik mungkin ke seluruh timnya.

Tapi saya tidak mau berpura-pura ini mudah.

Di tengah perubahan yang cepat, ada dorongan yang hampir tidak tertahankan untuk terus belajar cepat. Untuk terus menambah kecepatan. Untuk terus naik level sendiri, sebelum yang lain bergerak lebih dulu. Fear of missing out versi yang lebih sunyi.

Lalu kadang saya melihat ada yang belum sempat mengeksplor hal-hal yang sudah saya anggap mendasar. Dan gap itu nyata. Semakin khawatir ketika saya melihat gap ini muncul di mana-mana, di banyak ruang dan organisasi, termasuk institusi belajar yang kabarnya posisinya paling tinggi.

Game selalu memberi saya jawaban.

Esensi dari sebuah game bagi saya adalah sebagai sebuah ruang belajar. Bukan soal poin. Bukan soal leaderboard. Bukan soal siapa paling cepat sampai garis akhir. Tapi soal bagaimana kita bisa menikmati semua proses (belajar) yang ada.

Belajar AI setiap pagi itu penting buat saya. Tapi lebih penting lagi adalah apa yang terjadi setelah sesi itu selesai. Apakah saya kembali ke tim dengan kesombongan kecil, atau dengan semangat belajar yang bisa saya bagi.

Apakah saya masuk ke ruangan rapat sebagai atasan yang lebih tahu, atau sebagai teman yang baru belajar sesuatu pagi tadi dan ingin berbagi rasa ingin tahunya.

Saya belum sempurna di sini. Saya masih sering gagal. Masih sering tidak sabar. Masih sering merasa "kan lebih cepat kalau pakai cara ini". Tapi setiap kali gagal, saya coba lagi. Setiap pagi, saya duduk lagi. Setiap selesai sesi, saya tanya lagi: untuk siapa sebenarnya semua belajar ini?

Gap Untuk Dirayakan

Gap itu mungkin memang ada di mana-mana. Gap ini bisa kita jadikan ruang untuk sombong - merasa lebih bisa, atau jadi semacam pengingat. Untuk sedikit pause, berhenti sebentar. Untuk sadar ada ruang belajar besar. Untuk sadar ada banyak hal baik yang dimiliki semua orang. Untuk sadar bahwa tugas kita bukan untuk berlari sendiri tak henti, tapi untuk menemani dan happy ditemani. Untuk saling berbagi kebahagiaan belajar yang kita miliki.

Dan kalau kita bisa melakukan ini secara kontinu, untuk terus mengasah rasa bahagia, belajar sama-sama, mungkin ada banyak hal baik yang bisa kita hadirkan bersama. Untuk kita, untuk anak-anak kita, untuk tim kita, untuk organisasi kita, untuk Indonesia, dan untuk dunia.

Tapi buat saya sendiri, saya ingin sekali bisa selalu belajar sepenuh hati, setiap hari. Untuk membuka peluang lebih besar, kelak saya bisa berpulang dengan bangga. Karena sudah coba melakukan apa yang Maha Pengasih minta - belajar dengan bahagia.