Haruskah Kita Membatasi Penggunaan AI?

Published on March 17, 2026

Jika kita tinggal di sebuah perkampungan di tengah hutan lebat, apakah kita akan mengunci rumah setiap hari dan memaksa anak-anak tetap di dalam demi alasan keamanan? Padahal kita sendiri juga mungkin tidak sepenuhnya tahu bagaimana menghadapi berbagai ancaman yang ada.

Mungkin akan lebih bijaksana jika kita memetakan apa saja yang baik di sekitar kita, sekaligus memahami berbagai risiko yang ada. Lalu dengan kesadaran, penuh persiapan, juga kerendahan hati mengajak anak-anak kita belajar masuk hutan sama-sama, memilih buah yang sehat, berburu dengan penuh kesadaran, mengambil hasil hutan secukupnya, dan saling menjaga dalam setiap prosesnya.

Hutan itu ada disekitar kita saat ini, dalam bentuk dunia digital. Berbagai teknogi, termasuk AI menjelma menjadi bagian dari hutan itu. Banyak hal baik di sana, namun ada beragam marabahaya juga. Sebagian besar dari anak-anak kita, tim muda kita, mereka secara sadar maupun tidak sudah masuk kedalamnya. Sebagian yang beruntung mendapatkan arahan yang baik dan bisa menemukan kebaikan yang ada di dunia digital dengan relatif mudah. Sebagian lainnya, mungkin juga karena ketidakpedulian kita, malah tersesat berputar-putar tanpa arah dan tujuan.

Mungkin karena konteks dunia digital yang semakin kompleks inilah pemerintah Indonesia minggu lalu menetapkan pedoman pemanfaatan teknologi digital dan AI di dunia pendidikan melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Tujuh Menteri. Kabarnya, kebijakan tersebut mengatur penggunaan teknologi digital dan AI pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi.

Kita bisa melihat kebijakan ini dari banyak sisi. Kita bisa melihatnya sebagai pembatasan yang tidak relevan, atau kita bisa melihatnya sebagai arahan yang memang dibutuhkan. Apapun pandangan kita tidak merubah fakta bahwa kita ada di dunia yang berubah sangat cepat. Kita tidak perlu mengejar semuanya - namun sepertinya penting untuk kita memiliki kerangka berpikir (framework) yang baik untuk kemudian mampu mengoptimalkan semua kebaikan yang ada. Dalam konteks ini AI literasi mejadi hal yang sangat penting.

European Commission (EC) da Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) beberapa waktu lalu merilis AI Literasi Framework, sebuah panduan global yang dirancang untuk membekali siswa pendidikan dasar dan menengah (K-12) dengan kemampuan memahami, menggunakan, dan berkreasi dengan AI secara bertanggung jawab.

Dalam panduan tersebut AI Literacy didefinisikan sebagai kombinasi dari pengetahuan teknis, keterampilan jangka panjang (durable skills), dan perilaku yang diperlukan untuk berkembang di dunia saat ini dan masa depan yang dipengaruhi oleh AI.

Ada 4 cakupan (domain) utama yang dibahas oleh framework tersebut:

  • Engaging with AI (Berinteraksi dengan AI): Menggunakan AI sebagai alat untuk mengakses konten dan mengevaluasi akurasi serta relevansi outputnya.
  • Creating with AI (Berkreasi dengan AI): Berkolaborasi dengan sistem AI dalam proses kreatif atau pemecahan masalah melalui prompting dan umpan balik.
  • Managing AI (Mengelola AI): Memilih secara sengaja bagaimana AI mendukung pekerjaan manusia, mendelegasikan tugas secara efisien, dan memastikan penggunaan tetap berpusat pada manusia.
  • Designing AI (Merancang AI): Memahami cara kerja sistem AI melalui eksplorasi langsung terhadap data dan pilihan desain untuk memahami dampak sosial dan etisnya

Bahwa semua aspek di atas juga harus dilandasi 3 pondasi utama:

  • Knowledge (Pengetahuan): Pemahaman teknis tentang bagaimana AI memproses data, perbedaan AI dengan pemikiran manusia, dan bagaimana bias muncul.
  • Skills (Keterampilan): Penerapan kemampuan fundamental seperti berpikir kritis, kreativitas, berpikir komputasi, dan kolaborasi dalam konteks AI.
  • Attitudes (Sikap/perilaku): Rasa ingin tahu, kemampuan beradaptasi, empati, dan tanggung jawab dalam menggunakan AI
  • Menariknya, perspektif ini sejalan dengan temuan World Economic Forum dalam laporan Future of Jobs. WEF menyebutkan bahwa keterampilan yang akan semakin penting di masa depan bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga keterampilan manusiawi seperti:
  • Analytical thinking
  • Creative thinking
  • Resilience, flexibility, and agility
  • Curiosity and lifelong learning
  • Systems thinking

Dengan kata lain, masa depan bukan hanya tentang siapa yang paling cepat menggunakan teknologi, tetapi juga tentang siapa yang mampu berpikir, beradaptasi, dan belajar secara berkelanjutan

Pertanyaannya kemudian, apakah kita (sebagai orang tua/sebagai leader) sudah memiliki semua pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku yang cukup untuk kemudian memahami semua hal di atas? Jika belum, apakah kemudian kita layak untuk merasa paling tahu tentang apa yang baik untuk masa depan mereka?

Menariknya dalam dokumen AI Literasi dari OECD juga disebutkan bahwa meskipun 74% generasi muda percaya AI akan berperan penting dalam kehidupan profesional selanjutnya, hanya 46% yang merasa sekolah mampu mempersiapkan mereka dengan baik.

AI akan ada dan terus berkembang, menjadi bagian penting dari anak-anak kita, juga kita! Terlepas apakah kita suka atau tidak. Kita punya pilhan, untuk terus berdebat tentang banyak hal terkait AI. Atau kita bisa memilih untuk mulai belajar, bermain, bersama-sama anak-anak kita, team kita - untuk bisa memanfaatkan AI untuk hadirkan kebaikan yang lebih luas. Saya memilih yang terakhir, karena sepertinya akan lebih menyenangkan.

Referensi pendukung: